Suararepublik.id
Jakarta – Di balik sosoknya sebagai ASN di Kantor Kementerian Agama Jakarta Utara, Ustadz Zae Abu El-Hasan menyimpan rekam jejak mendalam sebagai penggerak komunitas dakwah akar rumput.
Salah satu legacy yang ia bidangi adalah lahirnya Majelis Sekoci 24, sebuah wadah yang kini menjadi rumah bagi para dai muda di wilayah pesisir Jakarta.
Bukan sekadar majelis taklim biasa, "Sekoci"—begitu para anggotanya akrab menyebutnya—memiliki latar belakang pendirian dan filosofi yang unik.
Lahirnya Sekoci 24 berawal dari sebuah keresahan sosial beberapa tahun silam.Berawal dari" Kegelisahan Anak Nongkrong"
"Majelis ini didirikan di kediamannya oleh sekelompok pemuda alumni pesantren yang merasa bosan dengan rutinitas nongkrong yang kurang produktif."
"Dulu teman-teman sering kumpul di rumah. Suatu ketika ada ide, kita bosan maksiat terus, bosan main remi terus. Akhirnya kita sepakat bikin majelis," kenang Ustadz Zae.kamis (05/02/2026)
Nama Sekoci sendiri merupakan akronim dari Seputar Koja-Cilincing, merujuk pada basis wilayah awal pergerakan mereka di Jakarta Utara.
Filosofi Angka "24" dan Cahaya Ilahi
Salah satu identitas yang paling melekat adalah penyematan angka "24" di belakang nama Sekoci.
Ustadz Zae menjelaskan bahwa angka ini bukan sekadar nomor, melainkan mengandung makna teologis yang mendalam:
Dua Kalimat Syahadat: Kalimat Lailahaillallah terdiri dari 12 huruf, dan Muhammadur Rasulullah terdiri dari 12 huruf. Jika digabungkan, jumlahnya menjadi 24 huruf.
Surah An-Nur: Dalam Al-Qur'an, An-Nur (Cahaya) adalah surah ke-24.
Harapan Dakwah: Angka ini menjadi doa agar dakwah yang mereka jalankan selalu berada di bawah naungan cahaya Allah SWT dan berlandaskan ketauhidan yang kokoh.
Nama ini sendiri dicetuskan oleh para tokoh dai muda Jakarta Utara, di antaranya Ustadz Ahmad Hubbi Mukaffa (cucu pendiri Al-Khairiyyah, KH. Ahmad Zarkoni). Ustadz M. Jam'an Alwani, Ustadz Ahmad Firdaus Fauzani (da'i Ozan) dan lainnya.
Meskipun bermula dari wilayah pesisir Koja dan Cilincing, "Sekoci" ini ternyata mampu berlayar lebih jauh. Ustadz Zae mengungkapkan bahwa saat ini anggota dan jamaah majelis ini telah meluas hingga ke Bogor dan Tangerang.
Metode dakwah yang mereka usung pun tetap membumi, yakni melalui:
Ngaji Bareng: Duduk setara untuk mendalami kitab-kitab kuning dan literatur Islam.
Sowan Ziarah: Menghormati tradisi dengan berkunjung ke makam para aulia dan ulama besar di sekitar Jakarta Utara untuk mengambil keberkahan dan pelajaran hidup.
Pemberdayaan: Tidak hanya fokus pada aspek ritual, majelis ini juga terlibat dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat di lingkungan sekitar.
"Sekoci" sebagai Sekolah Kehidupan
Bagi Ustadz Zae, Sekoci 24 adalah saksi sejarah bagaimana para dai muda di Jakarta Utara tumbuh dan berkembang. Walaupun kesibukan masing-masing anggota kini semakin padat, ikatan emosional sebagai sesama "awak sekoci" tetap terjaga.
"Sekoci telah membesarkan kami. Kami meminum ilmu dari para guru di Koja, lalu kami sampaikan kembali kepada jemaah. Ini adalah wadah untuk saling mengingatkan," pungkasnya.
Hadirnya Sekoci 24 menjadi bukti bahwa dakwah bisa dimulai dari ruang tamu rumah dan dari niat sederhana untuk berhijrah ke arah yang lebih baik.


