Suararepublik.id
Jakarta – Biro Kerja Sama Daerah (KSD) melakukan kunjungan dan peninjauan lokasi pengolahan sampah di TPS RW 07, Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing , Jumat (10/7/2026).
Kegiatan ini didampingi Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Utara yang diwakili Kepala Seksi Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 (PSLB3) " Ardiyanto , serta Kasatpel Lingkungan Hidup Kecamatan Cilincing.
Lihat Langsung Pengelolaan Sampah di TPS Rorotan
Ardiyanto mengatakan kunjungan ini bertujuan melihat langsung pelaksanaan pengelolaan sampah di TPS RW 07 sebagai bagian dari upaya peningkatan kerja sama dan pengembangan sistem pengelolaan sampah di wilayah Jakarta Utara.
“Kunjungan ini bertujuan untuk melihat secara langsung pelaksanaan pengelolaan sampah di TPS RW 07 sebagai bagian dari upaya peningkatan kerja sama dan pengembangan sistem pengelolaan sampah di wilayah Jakarta Utara,” katanya di lokasi.
Fokus pada Pilah Sampah dan Pengolahan SOD
Ardiyanto menyampaikan ada beberapa langkah penting yang harus segera dilakukan agar permasalahan sampah menjadi tanggung jawab bersama.
“Yaitu pengolahan sampah dengan memilah dari sumber, kemudian melakukan pengolahan sampah SOD menjadi bubur organik,” jelasnya.
Ia merinci, untuk wilayah Kelurahan Rorotan saat ini terkumpul 5 hingga 7 ton sampah organik SOD per hari. Sampah tersebut diolah menjadi bubur organik yang nantinya akan dikirim ke para off taker.
“Selain itu untuk Kelurahan Rorotan 5 s.d 7 ton sampah organik SOD yang terkumpul, membuat bubur organik yang akan dikirim ke off taker,” ungkapnya.
Beberapa potensi off taker yang telah dilirik di antaranya PT MIL, Magota+, Harmoni Farm, Kementerian Pertanian, dan Kadin DKI Jakarta.
Rencana PKS dengan Off Taker
Ardiyanto menambahkan, ke depan Biro KSD bersama Biro Perekonomian dan Lingkungan Hidup (PLH) berencana membuat Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan para off taker untuk menjamin keberlanjutan pengolahan sampah organik di Jakarta Utara.
Dengan skema ini, diharapkan pengelolaan sampah di Jakarta Utara tidak hanya terangkut dan dibuang, tetapi juga memiliki nilai sirkular ekonomi dan mendukung ketahanan pangan.
(Red)


