Sejak siang hari, para tokoh agama terlihat berdatangan ke Istana dengan mengenakan busana khas, mulai dari batik, kemeja, baju koko, hingga sarung. Sejumlah pimpinan nasional ormas Islam yang hadir antara lain Ketua Umum MUI Anwar Iskandar, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Ketua Dewan Pembina PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis, serta tokoh Muslim lainnya.
Agenda pertemuan mencakup berbagai isu strategis, salah satunya rencana keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace atau Dewan Perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sebelum pertemuan berlangsung, Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan bahwa Kementerian Luar Negeri akan memberikan pemaparan umum terkait inisiatif internasional tersebut.
“Kementerian Luar Negeri pada pertemuan siang hari ini adalah mengenai pembicaraan mengenai Board of Peace. Penjelasan-penjelasan akan dilakukan seputar isu tersebut,” ujar Menlu RI.
Pertemuan yang dimulai sekitar pukul 13.00 WIB itu berlangsung selama kurang lebih empat jam dan digelar secara tertutup. Seusai pertemuan, para tokoh ormas Islam tampak keluar satu per satu dari kawasan Istana Kepresidenan.
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf mengungkapkan, Presiden Prabowo dalam pertemuan tersebut memberikan paparan menyeluruh mengenai langkah dan upaya Indonesia dalam membantu perjuangan rakyat Palestina.
Yahya menegaskan, seluruh peserta pertemuan memiliki pandangan yang sama terkait sikap Indonesia terhadap penjajahan.
“Semua yang hadir sepakat bahwa menolak penjajahan, memperjuangkan kemerdekaan untuk semua bangsa adalah amanat proklamasi,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah dan ormas Islam juga satu suara bahwa Indonesia harus terus membela dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Presiden, kata Yahya, memaparkan berbagai pertimbangan realistis yang tengah dihadapi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.
“Tadi kami mendapatkan penjelasan yang ekstensif dari Presiden mengenai pertimbangan-pertimbangan realistis yang harus dibuat terkait dengan keadaan yang sekarang berlangsung dan peluang-peluang yang tersedia untuk agar Indonesia ini bisa secara lebih konkret, lebih progresif, dan mengejar hasil yang lebih nyata berdampak untuk menolong Palestina,” ungkap Yahya.
Ia menambahkan, salah satu opsi yang dijelaskan Presiden adalah partisipasi Indonesia dalam inisiatif Board of Peace yang diusulkan Amerika Serikat.
“Termasuk dengan mengikuti atau berpartisipasi di dalam inisiatif yang dibuat oleh Amerika yaitu Board of Peace ini,” sambungnya.
Melalui pertemuan tersebut, Yahya menyebut sekitar 16 ormas Islam, para kiai, dan pimpinan pondok pesantren telah memperoleh pemahaman utuh mengenai Board of Peace. Kendati demikian, PBNU menegaskan pentingnya kewaspadaan agar keterlibatan Indonesia tidak justru merugikan kepentingan Palestina.


