Suararepublik.id
TANGERANG — Penanganan kasus dugaan penipuan investasi bermodus arisan bodong oleh Polsek Pagedangan menuai kritik tajam dari para korban. Aparat kepolisian setempat dituding bertindak tidak transparan, kurang profesional, dan cenderung pasang badan membela terduga pelaku, NFA.
Kekecewaan ini memuncak saat puluhan korban menggeruduk rumah NFA di Perumahan EONNA BSD, Cluster AERRA, Pagedangan, Tangerang Selatan, Sabtu (23/5/2026). Bukannya mendapatkan kepastian hukum, para korban justru merasa dikelabui oleh oknum aparat yang berada di lokasi kejadian.
Kecurigaan para korban bermula ketika petugas kepolisian dari Polsek Pagedangan mendatangi rumah pelaku pasca-penggerebekan yang meledak sejak pukul 07.00 WIB. Alih-alih menjembatani konflik atau memberikan kejelasan, petugas dinilai menutup diri.
"Kami menilai petugas bertindak kurang transparan dan cenderung berat sebelah. Mereka berada di dalam rumah pelaku dalam waktu yang sangat lama, tanpa memberikan kejelasan atau berniat memediasi perwakilan korban yang sudah menunggu di luar," ungkap salah satu korban di lokasi.
Sikap tertutup dari aparat ini memicu trust issue (krisis kepercayaan) yang mendalam di kalangan korban, yang merasa hak-hak mereka diabaikan sementara pihak pelaku seolah mendapatkan perlindungan eksklusif.
Tudingan bahwa Polsek Pagedangan "bermain" di balik layar semakin menguat setelah hilangnya salah satu unit mobil mewah milik NFA dari area rumah. Padahal, gaya hidup mewah NFA—yang memiliki rumah dan deretan mobil tanpa pekerjaan tetap—diduga kuat disokong oleh uang haram hasil menipu para korban selama 4 tahun terakhir.
Salah satu korban, Natalia, yang mengalami kerugian pribadi hingga Rp300 juta, membeberkan bahwa pihak Kanit Reskrim Polsek Pagedangan sebelumnya telah memberikan jaminan beralas hukum kepada para korban.
"Katanya polisi mau jadi penengah dan menjamin mobil itu tidak akan ke mana-mana untuk dijadikan barang bukti selama kami membuat laporan resmi ke Polres Tangerang Selatan," ujar Natalia dengan nada kecewa.
Namun, jaminan tinggal jaminan. Di tengah situasi yang memanas, mobil mewah tersebut justru lolos dan diangkut oleh mobil derek (towing) yang diduga melibatkan oknum Dinas Perhubungan.
"Nyatanya malah mau diderek dan diduga mau disembunyikan. Kami benar-benar sudah trust issue," tegas Natalia.
Kasus ini bermula dari modus over slot atau penjualan slot arisan nomor bawah fiktif yang ditawarkan NFA. Pelaku mengiming-imingi korban keuntungan Rp9 juta hingga Rp10 juta dalam dua bulan. Investigasi mandiri para korban mengungkap dari 15 nama dalam satu kuartal, nomor 1 hingga 13 adalah fiktif, sementara nomor 14 dan 15 dijual berulang kali (double-double counter). Total kerugian dari seluruh korban ditaksir mencapai Rp16 Miliar.
Sebelum menghilang sejak pukul 05.00 WIB pada hari penggerebekan, NFA sempat mengintimidasi korban agar tidak memviralkan kasus ini atau melaporkannya ke polisi jika ingin uang mereka kembali.
Akibat penanganan Polsek Pagedangan yang dinilai mengecewakan dan berat sebelah, sejumlah korban memilih melompati jalur polsek dan resmi melayangkan laporan ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu Polres Tangerang Selatan dan Polres Jakarta Selatan. Di sisi lain, NFA diketahui telah menunjuk kantor hukum Sunan Kalijaga untuk menghadapi tuntutan hukum dan desakan pengembalian dana Rp16 miliar dari para korbannya.
(Nuy)


