JELAJAH

RW 04 Tugu Selatan Jadi Kawasan dengan Dapur MBG Terbanyak, Serap Puluhan Pekerja Lokal

SuaraRepublik
6/04/2026, 19.44 WIB Last Updated 2026-06-04T12:44:21Z


Suararepublik.id

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan melalui sejumlah dapur produksi di wilayah RW 04 Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Selain membuka peluang kerja bagi warga, keberadaan dapur-dapur tersebut juga dinilai membantu menekan angka pengangguran dan menciptakan kondisi lingkungan yang lebih tertib.


Ketua RW 04 Tugu Selatan, Mada, mengatakan dirinya bersyukur wilayahnya menjadi salah satu kawasan dengan jumlah dapur MBG terbanyak di Kelurahan Tugu Selatan. Saat ini terdapat empat dapur yang sudah beroperasi maupun sedang dalam tahap persiapan, termasuk Dapur Alfa dan dapur yang berada di area stasiun pengisian bahan bakar.


"Saya termasuk salah satu pengurus yang paling bersyukur. Di Tugu Selatan mungkin RW 04 yang dapurnya paling banyak," ujar Mada di Jakarta Utara, Kamis (4/6/2026).


Mada menjelaskan, sejak awal proses pembangunan dapur-dapur tersebut, pihak pengurus lingkungan telah meminta agar warga sekitar menjadi prioritas utama dalam perekrutan tenaga kerja. Menurutnya, komitmen tersebut telah dijalankan dengan baik oleh para pengelola.


Hingga saat ini, sebanyak 97 warga RW 04 telah bekerja di berbagai dapur produksi yang beroperasi di wilayah tersebut. Setiap dapur rata-rata mampu menyerap sekitar 27 hingga 33 tenaga kerja.


"Per hari ini warga saya yang dipekerjakan sudah lebih dari 97 orang. Dari awal kita memang meminta pengelola untuk memprioritaskan masyarakat sekitar. Alhamdulillah, setiap dapur bisa menyerap puluhan tenaga kerja," ungkapnya.


Tak hanya berdampak pada sektor ekonomi, Mada menilai program tersebut juga membawa perubahan positif dalam kehidupan sosial masyarakat. Ia menyebut banyak pemuda yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan kini telah mendapatkan aktivitas yang produktif dan penghasilan tetap.


"Kalau sebelumnya anak-anak yang baru lulus sering begadang di pinggir jalan. Sekarang sudah sulit menemukan mereka nongkrong sampai malam karena banyak yang sudah bekerja. Termasuk ibu-ibu usia 40 tahun ke atas juga banyak yang ikut bekerja," jelasnya.


Selain itu, lokasi dapur yang berada di dalam lingkungan RW dinilai memberikan keuntungan bagi warga karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi maupun tempat tinggal sebagaimana jika bekerja di kawasan industri yang jauh dari tempat tinggal.


Tanggapi Isu Perizinan dan Lokasi SPPG


Terkait isu yang sempat berkembang mengenai perizinan dan keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di area pom bensin, Mada memilih menyerahkan persoalan tersebut kepada pihak pengelola dan instansi berwenang.


Menurutnya, setiap pembangunan dan operasional fasilitas tentu telah melalui berbagai proses dan pertimbangan, termasuk menyangkut aspek keamanan serta ketentuan yang berlaku.


Ia juga menyebut salah satu pengelola dapur telah berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan mengikuti berbagai kegiatan sosialisasi yang melibatkan masyarakat sekitar. Hubungan antara pengelola SPPG dengan warga pun disebut berjalan harmonis melalui komunikasi rutin dengan pengurus RT, RW, dan tokoh masyarakat setempat.


Di akhir keterangannya, Mada menegaskan bahwa prioritas utamanya sebagai pengurus lingkungan adalah memastikan kesejahteraan warga, termasuk membantu menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, terutama anak-anak yatim piatu yang menjadi tulang punggung keluarga.


"Saya bersyukur karena ada empat dapur di RW 04 dan warga saya banyak yang sudah bekerja. Itu yang paling penting bagi saya sebagai pengurus. Terima kasih kepada Lurah, dan Camat atas dukungannya. Kepuasan seorang pengurus itu ketika melihat warganya bisa bekerja," pungkasnya.


(Red)

Komentar

Tampilkan