Suararepublik.id
Jakarta – Angkatan Muda Muhammadiyah Jakarta Utara tahun 2026 menggelar Halal Bi Bahalal dan Talk Show di Halaman Sekolah SD Aisyiyah Muhamadiyah, Jakarta Utara, Minggu (12/4/2026).
Momentum Halal Bihalal jadi titik kebangkitan, dengan satu target fantastik yaitu produksi Pembangkit Tenaga Surya rakitan sendiri untuk Jakarta menghadapi krisis global.
Kiki Ramadan salah satu narasumber talk show menegaskan, kaderisasi Muhammadiyah kini wajib keluar dari tembok masjid.
“Jangan datang ke DPRD bawa proposal minta bantuan, tapi bawa gagasan! Teman-teman Pemuda Muhammadiyah punya kemampuan panel surya. Ini ladang bisnis sekaligus dakwah nyata,” tegasnya.
"Amal Usaha Muhammadiyah seperti sekolah dan kampus disiapkan jadi laboratorium proyek percontohan sebelum diaudisikan ke DPRD DKI. Rakit, Produksi, Pasarkan: PTSA Buatan Anak Muda, Ini bukan sekadar proyek lingkungan. Bagi AMM Jakut, panel surya adalah wajah baru dakwah: teknologis, ekonomis, ekologis. Saat krisis energi global mengancam dan harga BBM diguncang konflik Selat Hormuz, anak muda Muhammadiyah memilih jalan lain untuk menerangi kota dengan matahari, dengan tangan sendiri. Dari Halal Bihalal lahir halal energy. Dari Jakarta Utara, dakwah Muhammadiyah," ungkap Kiki.
Langkah paling konkret datang dari Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Jakut, M. Rizki, menyampaikan “Kita akan rakit, produksi sendiri Pembangkit Tenaga Surya. Namanya PTSA. Tujuannya jelas untuk kurangi emisi, manfaatkan panas global jadi energi,” ujarnya.
"Panas menyengat pesisir Jakarta yang selama ini jadi musuh, kini dibalik jadi senjata melawan pemanasan global. Produk ini akan jadi kerja kolektif IPM, IMM, Nasyiatul Aisyiyah, hingga Pemuda Muhammadiyah," lanjut dia.
Sementara itu Nanang Prabowo, Ketua Panitia kegiatan mengajak para anak muda Muhammadiyah untuk terus menjaga kekompakan dan menjalin sinergi dengan beberapa organisasi kepemudaan. Ia menyebut tahun 2026 adalah tahun kebangkitan untuk generasi muda.
“Generasi muda AMM Jakut harus solid. Kita jalin sinergi dengan semua pemerintah, kepolisian, organisasi kepemudaan lain nya , sampai unsur wilayah. Dari solid di dalam, baru kita gebrak keluar . Sinergi bukan basa-basi, tapi strategi agar PTSA rakitan kader bisa masuk ke kebijakan dan dirasakan warga," pungkasnya.
(Red)


