Suararepublik.id
Jakarta – Pelaksanaan awal proyek revitalisasi Pasar Gardu Asem di Kemayoran, Jakarta Pusat, menuai kritik tajam dari perangkat wilayah setempat. Kurangnya komunikasi dari pihak pelaksana proyek dinilai menjadi akar persoalan yang memicu kekecewaan pengurus RT/RW hingga unsur keamanan lingkungan.
Sorotan muncul setelah aktivitas proyek yang melibatkan mobilisasi alat berat dilakukan pada malam hari tanpa pemberitahuan kepada warga. Situasi tersebut dinilai tidak hanya mengganggu, tetapi juga menimbulkan keresahan di lingkungan sekitar.
Kekecewaan itu bahkan disampaikan langsung dalam acara peletakan batu pertama (groundbreaking) yang dihadiri Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Perwakilan RW setempat secara terbuka mengungkapkan bahwa proses sosialisasi proyek nyaris tidak dirasakan oleh perangkat wilayah.
“Kami sudah berkomunikasi dengan kepala pasar dan juga menyampaikan dalam rapat di kecamatan agar ada undangan resmi atau pemberitahuan kepada RT/RW. Namun kenyataannya tidak ada informasi yang kami terima,” ujar perwakilan RW, Senin (6/4/2026).
Ia menilai, absennya komunikasi tersebut menunjukkan kurangnya pelibatan unsur wilayah dalam proyek yang berdampak langsung pada masyarakat sekitar. Bahkan, ia mengaku sempat meluapkan kekecewaannya kepada pihak pengelola pasar karena merasa diabaikan sejak awal proses pembangunan.
“Harapan kami ke depan, pihak pelaksana proyek bisa lebih berkoordinasi dengan kami sebagai pemangku wilayah. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali,” lanjutnya.
Revitalisasi Pasar Gardu Asem yang menjadi bagian dari program peningkatan fasilitas pasar tradisional di bawah PD Pasar Jaya seharusnya tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Kasus ini menjadi catatan serius bahwa transparansi dan komunikasi dengan warga sekitar merupakan aspek krusial yang tidak boleh diabaikan dalam setiap proyek pembangunan.
(Ytn)


