Jakarta – GMF Employee Club (GEC) kembali menegaskan komitmennya terhadap demokrasi modern, transparansi organisasi, dan transformasi digital melalui pelaksanaan pemilihan Ketua Umum GEC yang berlangsung secara demokratis, profesional, dan berbasis teknologi digital, Jumat (8/5/2026).
Dalam proses pemilihan yang diikuti oleh tiga kandidat terbaik kader organisasi, Qomar Khoiri berhasil memperoleh kepercayaan mayoritas anggota dan terpilih sebagai Ketua Umum GEC untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dari Budi Cahyono, yang telah memimpin organisasi selama dua periode penuh tantangan dan dinamika besar industri penerbangan nasional maupun global.
Pelaksanaan pemilihan kali ini menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya GEC menyelenggarakan proses pemilu organisasi secara E-Voting menggunakan aplikasi Electigo, sebuah sistem pemilu digital yang dibangun secara mandiri oleh pengurus GEC yang juga merupakan seorang Technical Leader IT di GMF AeroAsia.
Pengembangan Electigo dipimpin oleh Mochammad Dimas Editiya sebagai Ketua Pemilihan Umum GEC dan juga sebagai Technical Lead bersama tim pengembang internal GEC. Kehadiran Electigo menjadi bukti nyata kapasitas, kompetensi, dan kualitas sumber daya manusia GMF yang tidak hanya unggul di bidang aviasi dan engineering, tetapi juga memiliki kemampuan tinggi dalam pengembangan teknologi informasi dan digitalisasi organisasi. Sistem Electigo dikembangkan dengan pendekatan teknologi keamanan modern untuk memastikan proses pemungutan dan penghitungan suara berjalan aman, transparan, akuntabel, dan terpercaya. Teknologi ini menjadi langkah progresif GEC dalam membangun budaya organisasi yang adaptif terhadap transformasi digital dan tata kelola modern.
Sebagai aplikasi e-voting generasi baru, Electigo dirancang agar proses pemilihan dapat berlangsung cepat tanpa mengurangi aspek keamanan dan kerahasiaan suara anggota. Sistem ini memanfaatkan teknologi blockchain-like dan Merkle Tree yang memungkinkan setiap suara tervalidasi secara digital serta terlindungi dari perubahan, manipulasi, maupun penghapusan data tanpa terdeteksi sistem.
Melalui teknologi tersebut, integritas hasil pemilihan dapat dijaga secara lebih kuat, sekaligus meningkatkan kepercayaan anggota terhadap proses demokrasi organisasi yang transparan dan profesional. Inovasi ini menunjukkan bahwa insan GMF tidak hanya unggul dalam industri aviasi dan engineering, tetapi juga mampu menghadirkan solusi digital karya internal yang modern, aman, dan berdaya saing tinggi.
Keberhasilan pelaksanaan E-Voting melalui Electigo juga mencerminkan kedewasaan demokrasi organisasi di tubuh GEC. Seluruh anggota dapat menggunakan hak pilihnya secara efektif, efisien, dan transparan melalui sistem digital yang dibangun secara independen oleh internal organisasi sendiri. Inovasi ini menjadi kebanggaan tersendiri karena lahir dari karya anak bangsa dan insan GMF yang memiliki kompetensi tinggi di bidang teknologi.
Selanjutnya, Ketua Umum terpilih akan resmi dikukuhkan dalam agenda Musyawarah Besar (Mubes) GEC mendatang sebagai forum tertinggi organisasi. Estafet kepemimpinan ini menjadi momentum penting dalam perjalanan GEC. Kepemimpinan Budi Cahyono selama dua periode tercatat sebagai salah satu fase paling bersejarah dalam perjalanan organisasi pekerja di lingkungan GMF AeroAsia. Di tengah badai pandemi COVID-19 yang mengguncang industri penerbangan dunia, GEC hadir menjaga soliditas pekerja, memperkuat hubungan industrial, serta menjadi mitra strategis perusahaan dalam menjaga keberlangsungan bisnis dan moral insan GMF.
Di bawah kepemimpinan Budi Cahyono, GEC berhasil melewati masa-masa krisis dengan pendekatan yang adaptif, komunikatif, dan penuh semangat perjuangan. Ketika industri aviasi mengalami tekanan besar akibat penurunan trafik penerbangan global, efisiensi besar-besaran, hingga tantangan keberlangsungan usaha, GEC tetap berdiri di garis depan dalam menjaga keseimbangan antara perlindungan pekerja dan keberlanjutan perusahaan.
Seiring dengan pulihnya industri penerbangan global, GMF AeroAsia menunjukkan kebangkitan yang signifikan. Transformasi bisnis, efisiensi operasional, peningkatan produktivitas, serta kerja keras seluruh insan perusahaan membawa GMF kembali tumbuh sebagai perusahaan Maintenance, Repair & Overhaul (MRO) yang sehat dan berhasil mencatatkan keuntungan pasca pandemi.
Pertumbuhan GMF tersebut berjalan paralel dengan perkembangan GEC sebagai organisasi pekerja yang semakin solid, modern, inovatif, dan strategis. Berbagai capaian organisasi berhasil diwujudkan, mulai dari penguatan kaderisasi, peningkatan kompetensi anggota, penguatan advokasi pekerja, hingga pengembangan sistem digital organisasi berbasis teknologi hasil karya internal insan GMF sendiri.
Namun tantangan global ke depan dipastikan tidak semakin ringan. Dunia saat ini kembali menghadapi ketidakpastian geopolitik internasional, mulai dari ancaman krisis energi global, tekanan ekonomi dunia, hingga meningkatnya tensi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi rantai pasok global dan industri penerbangan internasional.
Dalam konteks tersebut, estafet kepemimpinan dari Budi Cahyono kepada Qomar Khoiri menjadi simbol keberlanjutan perjuangan organisasi untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Kepemimpinan baru diharapkan mampu melanjutkan fondasi kuat yang telah dibangun sebelumnya, sekaligus menghadirkan energi baru, inovasi, dan semangat kolaborasi untuk menjaga daya tahan organisasi dan perusahaan.
GEC meyakini bahwa tantangan industri hanya dapat dihadapi melalui persatuan, solidaritas, inovasi, dan sinergi antara pekerja dan perusahaan. Pergantian kepemimpinan ini bukan sekadar pergantian figur, tetapi merupakan kesinambungan visi perjuangan dalam menjaga kesejahteraan pekerja, memperkuat hubungan industrial yang harmonis, serta mendukung GMF AeroAsia sebagai MRO kebanggaan Indonesia agar terus tumbuh dan kompetitif di tingkat global.
“Demokrasi yang sehat, transformasi digital, dan soliditas organisasi adalah fondasi utama dalam menghadapi tantangan global dan membawa GEC serta GMF terus tumbuh menuju masa depan yang lebih kuat.”
(Budi Cahyono)


