JELAJAH

Sambut 500 Tahun Jakarta, Pramono Siapkan Parade 500 Ondel-Ondel Karya Desainer Ternama

SuaraRepublik
6/20/2026, 12.26 WIB Last Updated 2026-06-20T05:27:00Z

Suararepublik.id

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, berencana menghadirkan parade 500 ondel-ondel dalam rangka menyambut peringatan lima abad atau 500 tahun Jakarta pada 2027. Ratusan ikon budaya Betawi tersebut akan mendapatkan sentuhan baru dari para desainer ternama sebagai bagian dari upaya memperkenalkan budaya Betawi ke panggung internasional.


Rencana tersebut disampaikan Pramono saat menghadiri puncak Haul Akbar Ulama dan Habaib Betawi 2026 di Monumen Nasional, Jumat (19/6/2026).


Menurut Pramono, penguatan identitas budaya Betawi menjadi salah satu agenda utama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjelang perayaan 500 tahun Jakarta. Ia menilai budaya Betawi harus tampil lebih bermartabat dan mampu menjadi representasi Jakarta di tingkat global.


"Maka untuk itu, dalam rangka 500 tahun nanti, saya akan menampilkan 500 ondel-ondel yang dibuat oleh desainer-desainer top yang akan memberikan wajah baru ondel-ondel Jakarta," kata Pramono.


Pramono menegaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menjaga dan mengangkat marwah budaya Betawi. Karena itu, ia juga menolak praktik penggunaan ondel-ondel untuk mengamen di jalanan.


"Karena saya ingin Betawi ini menjadi bisa bertarung secara internasional. Maka kenapa secara pribadi sebagai Gubernur, contohnya, saya melarang ondel-ondel untuk menjadi cara untuk mengamen," ujarnya.


Ia menilai ondel-ondel bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan simbol budaya yang memiliki nilai filosofis dan sejarah yang harus dijaga kehormatannya.


Dalam kesempatan tersebut, Pramono juga menyinggung amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta yang menetapkan budaya Betawi sebagai kultur utama ibu kota. Oleh sebab itu, berbagai kebijakan yang memperkuat identitas Betawi terus didorong oleh Pemprov DKI.


Salah satu langkah yang telah diterapkan adalah penggunaan pakaian adat Betawi dalam berbagai kegiatan resmi pemerintahan, termasuk saat pelantikan pejabat.


"Saya sering dikritik oleh banyak orang kenapa saya begitu kekeh untuk wajah Betawi di Balai Kota ini menjadi nampak. Bahkan setiap pelantikan pejabat, tidak boleh lagi memakai pakaian jas, harus memakai ujung serong, kebaya encim, dan sebagainya," tuturnya.


Pramono berharap berbagai upaya tersebut dapat semakin memperkuat eksistensi budaya Betawi sekaligus menjadikannya bagian penting dari perjalanan Jakarta menuju kota global.


"Tahun depan kita akan memperingati 5 abad, 500 tahun Jakarta. Perjalanan panjang yang sudah memberikan kontribusi bagi perjalanan bangsa ini, terutama di Jakarta," jelasnya.


(Ris)



Komentar

Tampilkan