JELAJAH

Mentegarkan Kembali Kaderisasi Golongan Muda NU di Tanjung Priok Madi Ramadan

SuaraRepublik
3/15/2026, 20.45 WIB Last Updated 2026-03-15T14:22:26Z

 

Suararepublik.di

Jakarta – Tanjung Priok bukan sekadar wilayah yang berada pada titik koordinat di peta Jakarta Utara. Ia adalah saksi bisu sejarah, sebuah pelabuhan raksasa tempat arus peradaban, ekonomi, dan kultur bertemu dalam satu muara yang keras. Namun, di tengah gemuruh truk kontainer dan deru debu pesisir, sebuah tanya besar menggelitik nurani kita, "di manakah posisi pemuda Nahdlatul Ulama dalam pusaran perubahan ini?"


​Agenda kolaborasi yang menyatukan PAC GP Ansor, Fatayat, IPNU, dan IPPNU se-Kecamatan Tanjung Priok yang dilaksanakan pada 15 Maret 2026 bukanlah sekadar pertemuan formal di atas kertas. Ini adalah sebuah proklamasi kesadaran. Ini adalah momentum untuk menyegarkan kembali sel-sel kaderisasi kita yang mungkin sempat jenuh atau kehilangan arah di tengah hiruk-pikuk dunia urban. Kita harus jujur pada diri sendiri. Selama ini, seringkali kita terjebak dalam sekat-sekat administratif yang sempit. IPNU-IPPNU berjalan dengan dunianya, sementara Ansor dan Fatayat sibuk dengan barisannya sendiri. Padahal, kita adalah satu tubuh, satu tarikan napas perjuangan yang bersumber dari rahim yang sama.


Penyegaran kaderisasi harus dimulai dengan meruntuhkan tembok ego sektoral tersebut. Pertemuan lintas banom di Tanjung Priok ini adalah simbol simfoni pergerakan. Kita tidak lagi bicara tentang "organisasi saya", melainkan "masa depan kita". Saat empat pilar pemuda NU ini bersinergi, kita sedang membangun kekuatan kolektif yang tak tertandingi untuk menjaga benteng Ahlussunnah wal Jamaah di tanah pesisir. Menyegarkan kaderisasi tidak berarti mengubah prinsip dasar, melainkan memperbaharui metodologi. Kita hidup di era di mana informasi bergerak lebih cepat dari kedipan mata. Jika pola kaderisasi kita masih kaku, satu arah, dan tertutup, maka kita akan ditinggalkan oleh zaman. Kader muda NU di Priok harus menjadi trendsetter, bukan sekadar pengekor. Kaderisasi hari ini harus mampu menjajah ruang digital serta kita mesti hadir sebagai jawaban atas keresahan pemuda di Tanjung Priok.


Tentu dalam pelaksanaan nya tersebut, kita berpijak pada kaidah Al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Menjadi modern bukan berarti menanggalkan sarung atau melupakan shalawat. Justru, tradisi inilah yang menjadi jangkar agar kita tidak terombang-ambing di tengah badai disrupsi.


Penyegaran ini adalah ikhtiar agar identitas kita sebagai santri tidak dianggap sebagai barang antik yang usang, melainkan sebagai gaya hidup yang membanggakan. Kita ingin mencetak kader yang mampu berdiskusi tentang teknologi kecerdasan buatan (AI) di siang hari, namun tetap khusyuk bertahlil dan bersimpuh di hadapan kiai pada malam harinya.


Tanjung Priok memanggil kita semua. Agenda bersama ini adalah lonceng peringatan bahwa waktu untuk diam telah usai. Mari kita jadikan organisasi ini sebagai laboratorium kepemimpinan yang inklusif, tempat di mana setiap pemuda NU merasa memiliki rumah untuk bertumbuh. Mari kita nyalakan kembali api semangat itu. Biarkan dunia melihat bahwa dari Tanjung Priok, lahir generasi muda NU yang tangguh, cerdas secara intelektual, dan kokoh secara spiritual. Ini adalah fajar baru bagi kita semua.


(Red)

Komentar

Tampilkan