Suararepublik.id
Jakarta – Peringatan May Day 1 Mei 2026 di Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok berlangsung aman dan penuh warna. Polres Pelabuhan Tanjung Priok mengerahkan 267 personel untuk mengamankan aksi di Pos 9, sekaligus membagikan kue ulang tahun sebagai tanda asih ke 42 serikat buruh.
“Selain pengamanan, kami turut berbahagia dengan rekan-rekan serikat. Ada 42 serikat di wilayah kami, semua kami beri kue ulang tahun,” kata Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Aris Wibowo di Jakarta Utara, Jumat (1/5/2026).
Aris menyebut, sekitar 1.500 buruh dan pekerja dari wilayahnya diberangkatkan ke Monas dengan pengawalan polisi dari titik kumpul. Sementara aksi sore di Pos 9 diisi Serikat Pekerja Pelabuhan Terminal Kendaraan Indonesia (SPPTK-I) yang menggelar deklarasi keselamatan berkendara.
“Selamat Hari Buruh 1 Mei 2026. Semoga buruh tetap jaya, berkontribusi untuk negara, dan semakin sejahtera,” ujar Aris.
Sopir Pelabuhan: Uang Jalan Habis untuk Pungli
Aksi May Day di Pos 9 digerakkan Aliansi Buruh Sopir Pelabuhan Tanjung Priok. Koordinator aksi, Joko Laras yang merupakan Ketua Umum SP PTKI ( Serikat Pekerja Pelabuhan Terminal Kendaraan Indonesia) mengatakan 400 massa dimobilisasi dari empat elemen: SPPTKI Perkumpulan Sopir Trailer Tanjung Priok (PSTTP), Bapor Gesis, dan Aliansi Jakarta Utara.
Joko membeberkan derita sopir pelabuhan. Pertama, fasilitas di dalam pelabuhan belum memadai padahal sopir tiap hari bongkar muat logistik. Kedua, pungli masih marak.
“Sopir itu pendapatannya berdasarkan PO. Kalau tidak ada order, tidak dapat uang. Sisa dari uang jalan itu yang dibawa pulang. Ternyata sisanya kurang karena banyak dipotong pungli di jalan dan di dalam,” kata Joko.
Ia mendesak Walikota Jakarta Utara, Polres Jakut, dan Polres Pelabuhan memberantas premanisme dan pungli.
“Sopir-sopir tidak sama seperti buruh. Mereka hidup dari sisa uang jalan.”
Kemacetan Parah, Marka Jalan Tak Jelas
Persoalan lain: kemacetan akut di pelabuhan. Volume kontainer tinggi tak sebanding ruas jalan. Pelayanan dinilai lama, akses tol padat. Marka dan rambu jalan juga minta dibenahi demi keselamatan sopir, buruh, dan warga.
“Pelabuhan ini jumlah kontainer sangat banyak, sementara volume kendaraan tidak seimbang dengan ruas jalan,” tegas Joko.
Tuntutan Buruh: Hapus Outsourcing, Upah Layak
Untuk buruh, isu utama masih ketenagakerjaan: upah layak, status kerja jelas, dan hapus outsourcing di pelabuhan.
“Kebanyakan kontrak. Kita minta outsourcing dihapus. Regulasi juga terlalu banyak, perlu jadi perhatian pengusaha agar keadilan terwujud,” ujarnya.
Aksi 400 massa berjalan tertib usai koordinasi dengan Polres. “Alhamdulillah disambut baik Polres Pelabuhan dan Metro Jakut. Semoga jadi momentum perjuangan buruh dan sopir,” pungkas Joko.
Aksi May Day di Pos 9 Tanjung Priok selesai tanpa insiden. Polisi dan buruh berpisah dengan senyum, kue, dan catatan panjang pekerjaan rumah.
(Ytn)


