Suararepublik.id
JAKARTA — Peringatan May Day dan Hardiknas 2026 jadi momentum konsolidasi ide. Sejumlah pakar dan aktivis menggelar diskusi publik “Urgensi Kebebasan Sipil untuk Masa Depan Demokrasi Indonesia” di Kedai Kopi , Jakarta, Sabtu (2/5/2026).
Diskusi yang diinisiasi PP Perhimpunan Remaja Masjid Dewan Masjid Indonesia (PRIMA DMI) ini menyorot tiga pilar: aktivisme mahasiswa, transparansi birokrasi, dan meritokrasi.
Kembalikan Mahasiswa ke Khittah Kontrol Sosial
Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari, menegaskan mahasiswa harus kembali jadi kekuatan pengontrol sosial. “Keterlibatan aktif mahasiswa adalah mitra strategis bagi pemerintah dalam memastikan kebijakan negara tetap akuntabel,” ujarnya.
Menurut Feri, aktivisme yang sehat justru membantu pemerintah melakukan pengawasan internal. Hasilnya: birokrasi lebih bersih dan transparan.
Birokrasi Harus Jadi Pelayan, Bukan Sekadar Regulator
Ekonom senior Prof. Anthony Budiawan, salah satu tokoh Barisan Oposisi Indonesia, mendorong transformasi fundamental birokrasi. Pemerintah diminta beralih dari regulator menjadi pelayan rakyat sejati.
“Ruang diskusi publik yang inklusif dan transparan adalah kunci legitimasi kebijakan,” kata Anthony. Melibatkan masyarakat secara substansial dalam penyusunan regulasi akan meminimalisir resistensi dan mengubahnya jadi dukungan publik.
Meritokrasi Lahirkan Elit Berintegritas
Dari sisi tata kelola, Prof. Dr. TB Massa Djafar menekankan efektivitas partai politik sebagai agen kaderisasi. Penguatan sistem meritokrasi dalam kepemimpinan nasional diyakini melahirkan elit politik berintegritas.
Langkah itu selaras dengan visi pemerintah mempercepat reformasi tata kelola agar lebih stabil dan kompetitif secara global.
Catatan Diskusi: Lawan Oligarki, Batasi Konflik Kepentingan
Para narasumber sepakat perlu regulasi lebih ketat untuk membatasi konflik kepentingan demi melawan pengaruh oligarki. Pembersihan sistemik yang berkelanjutan disebut jalan menuju tata kelola yang adil, inklusif, dan bebas dari kepentingan segelintir kelompok.
Acara ini diharapkan memantik optimisme generasi muda untuk terus mengawal demokrasi demi masa depan Indonesia yang lebih baik.


