JELAJAH

Naniek S. Deyang Mundur dari Kepala BGN, ijin Pengobatan

SuaraRepublik
7/22/2026, 13.40 WIB Last Updated 2026-07-22T06:40:30Z

Suararepublik.id

Jakarta – Naniek S. Deyang menyampaikan pamit kepada Presiden RI. Keputusan itu bukan lahir karena lelah mengabdi, melainkan karena sebuah ikhtiar untuk memulihkan kesehatan jantungnya melalui pengobatan di luar negeri.


“Dengan berat hati akhirnya saya pamit kepada Bapak Presiden untuk melakukan pengobatan di luar negeri untuk jantung saya,” tulis Naniek dalam pernyataannya, Rabu (22/7/2026).


Ia menegaskan, pilihannya berobat ke luar negeri bukan berarti meragukan kemampuan tenaga medis Indonesia.


Menurutnya, langkah tersebut semata-mata untuk memperoleh second opinion, atas rekomendasi dari rekan yang telah lebih dahulu menjalani perawatan di tempat yang sama.


Mengundurkan Diri Demi Amanah yang Lebih BesarDi hadapan Presiden, Naniek juga menyampaikan permohonan maaf sekaligus pengunduran dirinya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).


Baginya, amanah besar harus diemban oleh seseorang yang mampu menjalankannya dengan kondisi terbaik.


Presiden pun, kata Naniek, memahami kondisi tersebut dan menyetujui pengunduran dirinya.


Meski demikian, pengabdiannya belum benar-benar usai. Ia mengungkapkan bahwa Presiden masih memintanya untuk tetap mengawal perjalanan BGN, bahkan berencana membentuk Dewan Pengawas BGN dan mempercayakan dirinya sebagai ketua.


Dengan gaya khasnya yang hangat, Naniek menyelipkan canda. “Kalau mencereweti kayaknya masih bisa, yang penting tidak berhubungan dengan pegang uang. Sumpah, trauma akut,” tulisnya disertai emoji tertawa.


MBG, Bukan Politik, Melainkan Investasi Masa DepanSelama 14 tahun mendampingi Presiden, Naniek mengaku memahami betul arah dan cita-cita besar Program Makan Bergizi Gratis (MBG).


Menurutnya, program tersebut bukanlah instrumen politik sebagaimana kerap dituduhkan sebagian pihak, melainkan ikhtiar untuk memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia agar tumbuh menjadi generasi yang sehat dan unggul.


Ia bahkan menepis anggapan bahwa jutaan penerima manfaat MBG disiapkan untuk kepentingan Pemilu 2029.


“Mayoritas penerima manfaat saat ini adalah balita hingga siswa sekolah dasar yang pada 2029 bahkan belum memiliki hak pilih,” ujarnya.


Naniek mengajak masyarakat melihat MBG sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa, bukan sekadar program pemerintah.


Menggerakkan Ekonomi dari DesaBagi Naniek, manfaat MBG tidak berhenti di meja makan anak-anak.


Ia menyebut program tersebut telah menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian masyarakat, terutama petani, peternak, hingga pedagang pasar,"pungkasnya.


(Tto)

Komentar

Tampilkan